Advertisement

AI Bukan Cuma Soal Kemudahan: Privasi dan Hak Pengguna Juga Perlu Dijaga

Pernah menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk menyusun tulisan, mencari ide konten, merangkum dokumen, atau membuat gambar? Sekarang, pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu cukup lama bisa diselesaikan dalam hitungan menit. Kita hanya perlu menuliskan instruksi, menunggu beberapa saat, lalu mendapatkan hasil yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan.

Bagi pelajar, pekerja kantoran, pengusaha, hingga blogger, kehadiran AI tentu memberikan banyak kemudahan. Teknologi ini dapat membantu mencari inspirasi ketika kehabisan ide, menyederhanakan informasi yang rumit, dan mempercepat pekerjaan rutin. Tidak mengherankan jika semakin banyak orang mulai memasukkan AI ke dalam aktivitas sehari-hari.

Namun, ada satu hal yang sering luput ketika kita terlalu fokus pada manfaatnya: apa yang terjadi pada informasi yang kita masukkan ke dalam layanan AI?

Ketika meminta AI merangkum dokumen, misalnya, seseorang mungkin langsung mengunggah seluruh berkas tanpa memeriksa apakah di dalamnya terdapat nomor identitas, alamat, informasi keuangan, atau data milik orang lain. Begitu pula ketika menggunakan AI untuk membantu pekerjaan kantor. Dokumen internal yang seharusnya hanya diketahui oleh pihak tertentu bisa saja dimasukkan ke layanan yang belum disetujui oleh organisasi.

Persoalan ini menunjukkan bahwa perkembangan AI bukan hanya berkaitan dengan kecanggihan teknologi. Ada pula hal yang perlu diperhatikan, mulai dari perlindungan data pribadi, transparansi penggunaan informasi, keadilan dalam pengambilan keputusan, hingga hak seseorang ketika dirugikan oleh hasil sistem otomatis.

Pada 11 Februari 2025, ANTARA memberitakan paparan Kementerian Komunikasi dan Digital mengenai strategi untuk mencegah penyalahgunaan AI, termasuk perhatian terhadap risiko bagi privasi dan hak pengguna. Isu ini semakin relevan ketika AI digunakan bukan sekadar untuk membantu menulis atau membuat gambar, tetapi juga untuk memproses data dan mendukung keputusan yang berdampak pada kehidupan seseorang.

Lantas, bagaimana cara memanfaatkan AI tanpa mengabaikan privasi? Apa saja risiko yang perlu dipahami pengguna? Dan sejauh mana tanggung jawab pengembang maupun organisasi dalam memastikan teknologi ini digunakan secara aman dan bertanggung jawab?

AI Memang Mempermudah Pekerjaan, tetapi Tidak Semua Informasi Aman Dibagikan

Salah satu alasan AI semakin populer adalah kemampuannya membantu pekerjaan yang sebelumnya terasa merepotkan. Seorang blogger dapat menggunakannya untuk menyusun kerangka artikel, pemilik usaha bisa meminta bantuan membuat deskripsi produk, sedangkan mahasiswa dapat memanfaatkannya untuk memahami konsep yang sulit.

Manfaat tersebut akan terasa lebih besar ketika pengguna mampu memberikan instruksi yang jelas dan memeriksa kembali hasilnya. Akan tetapi, kemudahan mengunggah informasi juga dapat membuat orang kurang berhati-hati dalam memilih data yang dibagikan.

Bayangkan seorang pegawai ingin meminta AI merangkum laporan keuangan. Agar hasilnya lebih akurat, ia mengunggah dokumen lengkap yang berisi nama pelanggan, nomor rekening, nilai transaksi, dan informasi internal perusahaan. Pekerjaan memang menjadi lebih cepat, tetapi muncul pertanyaan penting: apakah layanan tersebut memang boleh digunakan untuk memproses dokumen itu?

Jawabannya bergantung pada kebijakan layanan, pengaturan akun, ketentuan organisasi, serta jenis informasi yang diproses. Tidak semua layanan AI menangani data dengan cara yang sama. Ada layanan yang menyediakan pengaturan khusus untuk penggunaan data, sementara layanan lain memiliki ketentuan berbeda berdasarkan jenis akun atau produknya.

Karena itu, pengguna tidak seharusnya beranggapan bahwa semua informasi yang dimasukkan ke layanan AI otomatis bersifat rahasia.

Sebelum mengunggah dokumen, periksa kebijakan privasi dan ketentuan penggunaan layanan yang dipakai. Jika dokumen berasal dari kantor atau milik pelanggan, pastikan penggunaannya telah sesuai dengan kebijakan organisasi dan kewajiban perlindungan data yang berlaku.

Jika tujuan Anda hanya meminta bantuan memperbaiki format laporan, biasanya tidak perlu menyertakan seluruh data asli. Informasi yang tidak relevan dapat dihapus atau diganti dengan contoh fiktif terlebih dahulu.

Prinsipnya sederhana: berikan informasi secukupnya untuk menyelesaikan pekerjaan, bukan sebanyak-banyaknya hanya karena layanan AI mampu memprosesnya.

Memahami Risiko Privasi di Balik Penggunaan AI

Privasi digital tidak hanya berkaitan dengan apakah seseorang mengetahui kata sandi atau nomor identitas kita. Privasi juga mencakup bagaimana informasi dikumpulkan, digunakan, disimpan, dibagikan, dan dilindungi oleh suatu layanan.

Dalam sistem AI, data dapat digunakan untuk berbagai keperluan, bergantung pada bagaimana sistem dirancang dan kebijakan penyedia layanannya. Informasi dapat diproses untuk menghasilkan jawaban, menjaga keamanan layanan, meningkatkan kualitas sistem, atau menjalankan fungsi lain yang dijelaskan dalam ketentuan terkait.

Hal ini tidak berarti setiap layanan AI menggunakan seluruh percakapan pengguna untuk melatih modelnya. Praktik penanganan data berbeda-beda, sehingga pengguna perlu memeriksa kebijakan dan pengaturan pada layanan yang benar-benar digunakan.

Risiko muncul ketika pengguna tidak memahami ketentuan tersebut atau membagikan informasi yang seharusnya tidak diungkapkan.

Misalnya, seseorang mengunggah foto kartu identitas untuk meminta bantuan mengisi formulir. Padahal, ia sebenarnya hanya membutuhkan penjelasan mengenai kolom yang harus diisi. Dalam kondisi seperti ini, membagikan seluruh foto identitas dapat membuka informasi yang tidak diperlukan untuk menyelesaikan tugas.

Contoh lainnya adalah pengusaha yang memasukkan daftar pelanggan ke dalam layanan AI untuk membuat strategi pemasaran. Jika daftar tersebut berisi nama, nomor telepon, alamat email, dan riwayat transaksi, pengguna perlu mempertimbangkan dasar penggunaan data, tujuan pemrosesan, dan kewenangan untuk membagikannya.

Informasi yang terlihat sederhana ketika berdiri sendiri bisa menjadi lebih sensitif ketika digabungkan dengan data lain. Nama seseorang, misalnya, mungkin tidak terlalu berisiko. Namun, jika dipadukan dengan alamat rumah, nomor telepon, tempat kerja, dan informasi keuangan, data tersebut dapat memberikan gambaran yang jauh lebih lengkap tentang kehidupan orang itu.

Itulah sebabnya, perlindungan privasi perlu dimulai sebelum data dikirimkan ke suatu layanan.

Data Pribadi Apa yang Sebaiknya Tidak Dimasukkan Sembarangan ke AI?

Tidak semua informasi memiliki tingkat sensitivitas yang sama. Namun, ada beberapa jenis data yang sebaiknya tidak dibagikan ke layanan AI yang belum jelas kebijakan dan keamanannya.

Pertama, dokumen identitas seperti KTP, paspor, kartu keluarga, dan dokumen lain yang memuat informasi pribadi. Jika membutuhkan bantuan untuk memahami format atau isi formulir, gunakan contoh yang sudah disamarkan apabila dokumen aslinya tidak diperlukan.

Kedua, informasi keuangan, termasuk nomor rekening, kredensial perbankan, detail transaksi sensitif, dan dokumen yang berisi informasi pembayaran. Jangan pernah memasukkan PIN, kata sandi, atau kode OTP ke dalam percakapan AI.

Ketiga, informasi kesehatan dan data pribadi milik orang lain. Informasi semacam ini perlu ditangani dengan perhatian khusus, terutama jika pengguna tidak memiliki kewenangan untuk membagikannya.

Keempat, dokumen internal perusahaan, laporan keuangan yang belum dipublikasikan, data pelanggan, kontrak, serta informasi yang dilindungi oleh kewajiban kerahasiaan.

Kelima, foto, rekaman suara, dan dokumen yang memungkinkan seseorang diidentifikasi. Sebelum mengunggahnya, pertimbangkan apakah tujuan pekerjaan benar-benar membutuhkan informasi tersebut.

Jika data asli tidak diperlukan, samarkan nama, alamat, nomor telepon, nomor identitas, dan informasi pengenal lainnya. Misalnya, ganti nama pelanggan dengan โ€œPelanggan Aโ€ atau gunakan data transaksi fiktif untuk menguji format laporan.

Penyamaran data memang tidak selalu menghilangkan seluruh risiko identifikasi. Namun, langkah ini dapat mengurangi jumlah informasi pribadi yang dibagikan ketika dilakukan dengan tepat.

Mengapa Transparansi Penggunaan AI Sangat Penting?

Ketika seseorang menggunakan layanan digital, ia perlu memahami bagaimana informasi yang diberikan akan diproses. Hal ini menjadi semakin penting ketika sistem AI terlibat dalam proses yang tidak mudah dipahami oleh pengguna.

Bayangkan sebuah aplikasi menggunakan AI untuk memberikan rekomendasi pekerjaan. Pengguna mengisi profil, pengalaman kerja, pendidikan, dan keterampilan. Sistem kemudian menampilkan daftar lowongan yang dianggap sesuai.

Sekilas, proses tersebut terlihat sederhana. Namun, pengguna mungkin tidak mengetahui faktor apa saja yang digunakan untuk menghasilkan rekomendasi, apakah datanya disimpan, atau bagaimana informasi tersebut memengaruhi hasil yang ditampilkan.

Situasi serupa dapat terjadi pada layanan pendidikan, keuangan, perekrutan, dan layanan pelanggan. Ketika AI membantu menentukan prioritas atau memberikan rekomendasi, transparansi menjadi penting agar pengguna tidak hanya menerima hasil tanpa memahami batasannya.

Transparansi tidak selalu berarti pengembang harus membuka seluruh kode program atau rincian teknis sistem kepada publik. Yang lebih penting adalah memberikan penjelasan yang relevan mengenai penggunaan data, tujuan sistem, batasan hasil, dan cara meminta bantuan ketika terjadi kesalahan.

Pengguna juga perlu mengetahui kapan mereka sedang berinteraksi dengan sistem otomatis, terutama ketika hal tersebut berpengaruh terhadap keputusan penting.

Dengan informasi yang cukup, seseorang dapat menentukan apakah ia bersedia menggunakan layanan tersebut, apakah ada data yang perlu dibatasi, dan apa yang dapat dilakukan jika hasilnya tidak sesuai.

Ketika AI Salah, Siapa yang Bertanggung Jawab?

AI dapat menghasilkan jawaban yang keliru, tidak lengkap, atau tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Dalam beberapa situasi, kesalahan tersebut mungkin hanya mengganggu pekerjaan. Namun, dalam konteks lain, dampaknya bisa lebih serius.

Misalnya, sebuah organisasi menggunakan sistem AI untuk membantu menyeleksi lamaran kerja. Jika sistem memberikan rekomendasi yang tidak tepat, calon pekerja bisa kehilangan kesempatan meskipun sebenarnya memenuhi persyaratan.

Contoh lainnya adalah layanan yang menggunakan AI untuk membantu menjawab pertanyaan pelanggan. Jika sistem memberikan informasi yang keliru mengenai biaya atau ketentuan layanan, pengguna dapat mengambil keputusan berdasarkan pemahaman yang salah.

Masalahnya bukan semata-mata apakah AI mampu menghasilkan jawaban yang akurat. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah ada proses pemeriksaan, siapa yang bertanggung jawab atas penggunaannya, dan bagaimana orang yang terdampak dapat mengajukan koreksi.

Organisasi yang menerapkan AI perlu menyesuaikan tingkat pengawasan dengan risiko penggunaan sistem. Untuk pekerjaan sederhana, pemeriksaan ringan mungkin memadai. Namun, ketika AI digunakan untuk mendukung keputusan yang memengaruhi hak, peluang, keuangan, atau keselamatan seseorang, pengawasan manusia dan prosedur koreksi menjadi jauh lebih penting.

AI sebaiknya tidak dijadikan alasan untuk melepaskan tanggung jawab. Keputusan yang melibatkan manusia tetap perlu memiliki pihak yang bertanggung jawab, prosedur yang jelas, dan mekanisme untuk menangani kesalahan.

Risiko Bias: Ketika Hasil AI Tidak Adil bagi Semua Orang

Selain masalah privasi, AI juga dapat menghasilkan keputusan atau rekomendasi yang bias.

Bias dapat muncul dari data yang digunakan untuk mengembangkan sistem, cara data dipilih, desain model, atau cara hasilnya diterapkan dalam kehidupan nyata. Sistem yang bekerja cukup baik pada satu kelompok belum tentu memberikan hasil yang sama baiknya kepada kelompok lain.

Misalnya, sistem yang digunakan untuk menyeleksi kandidat pekerjaan dapat menghasilkan rekomendasi yang kurang adil apabila data historis yang digunakan mencerminkan ketimpangan masa lalu. Jika hasilnya diterima begitu saja tanpa pemeriksaan, ketimpangan tersebut berpotensi terus berulang.

Contoh lain adalah sistem pengenalan wajah atau suara yang memiliki tingkat kesalahan berbeda pada kondisi dan kelompok pengguna tertentu. Kesalahan seperti ini dapat memengaruhi pengalaman pengguna, terutama jika sistem dipakai untuk verifikasi identitas atau akses ke layanan penting.

Untuk mengurangi risiko tersebut, pengembang dan organisasi perlu menguji sistem menggunakan data serta kondisi yang beragam. Hasil pengujian perlu diperiksa secara berkala, terutama ketika sistem digunakan oleh kelompok pengguna yang berbeda atau diterapkan pada situasi baru.

Pengguna juga berhak mempertanyakan hasil yang terasa tidak masuk akal. Jika AI menolak permohonan, memberikan rekomendasi yang merugikan, atau menghasilkan informasi yang tidak sesuai, organisasi sebaiknya menyediakan cara untuk meminta penjelasan atau pemeriksaan ulang sesuai konteks layanan.

Teknologi yang baik bukan hanya teknologi yang cepat, tetapi juga teknologi yang digunakan dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap manusia.

Hak Pengguna Tidak Boleh Diabaikan

Dalam penggunaan AI, pembahasan mengenai hak pengguna tidak berhenti pada kemampuan mengakses teknologi. Pengguna juga perlu mendapatkan perlindungan yang sesuai ketika informasi pribadinya diproses atau ketika hasil sistem memengaruhi dirinya.

Salah satu aspek penting adalah perlindungan data pribadi. Di Indonesia, Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi menjadi salah satu landasan hukum yang relevan. Penerapannya bergantung pada konteks pemrosesan dan ketentuan yang berlaku.

Dalam praktiknya, pengguna perlu memahami informasi yang diberikan oleh layanan mengenai pengumpulan dan penggunaan data. Sementara itu, organisasi yang memproses data pribadi perlu memastikan bahwa kegiatan tersebut memiliki dasar yang sesuai, dilakukan untuk tujuan yang jelas, dan memenuhi kewajiban perlindungan data yang berlaku.

Aspek lain adalah kesempatan untuk mengoreksi informasi yang salah. Jika data yang digunakan oleh suatu sistem tidak akurat, kesalahan itu dapat memengaruhi hasil yang diberikan kepada pengguna.

Karena itu, mekanisme pengaduan dan koreksi menjadi bagian penting dari layanan yang bertanggung jawab. Pengguna perlu mengetahui ke mana harus menyampaikan keluhan dan bagaimana permintaan mereka akan ditangani.

Ketika AI digunakan dalam keputusan yang berdampak besar, organisasi juga perlu mempertimbangkan apakah hasil sistem harus ditinjau oleh manusia, terutama jika ada indikasi kesalahan atau perlakuan yang tidak adil.

Perlindungan seperti ini membantu memastikan bahwa manusia tidak sekadar menjadi sumber data bagi teknologi, tetapi tetap diperlakukan sebagai pihak yang memiliki kepentingan dan hak yang perlu dihormati.

Bagaimana Blogger, Pekerja, dan Pelaku Usaha Bisa Menggunakan AI dengan Lebih Aman?

Penggunaan AI tidak harus dihentikan hanya karena terdapat risiko privasi. Yang lebih penting adalah menyesuaikan cara penggunaan dengan kebutuhan dan sensitivitas informasi.

Bagi blogger, AI dapat membantu membuat kerangka artikel, mencari sudut pandang, menyusun daftar pertanyaan, atau memperbaiki struktur tulisan. Namun, hindari memasukkan data pribadi narasumber yang belum dipublikasikan jika informasi tersebut tidak diperlukan.

Jika meminta AI membantu mengolah wawancara, gunakan transkrip yang sudah disamarkan apabila identitas narasumber harus dirahasiakan. Periksa pula fakta dan sumber sebelum menerbitkan artikel. AI dapat membantu menyusun tulisan, tetapi tidak menggantikan tanggung jawab editorial untuk memastikan informasi akurat.

Bagi pekerja kantoran, perhatikan kebijakan penggunaan AI yang berlaku di tempat kerja. Jangan mengunggah dokumen internal, daftar pelanggan, data keuangan, atau informasi rahasia ke layanan yang belum disetujui organisasi.

Jika perusahaan menyediakan layanan AI khusus untuk pekerjaan, pahami batas penggunaan dan pengaturan datanya. Gunakan akun yang sesuai dan jangan mencampur informasi pribadi dengan dokumen perusahaan tanpa alasan yang jelas.

Bagi pelaku usaha, AI dapat membantu menyusun deskripsi produk, membuat ide promosi, menganalisis tren, atau merapikan komunikasi dengan pelanggan. Namun, data pelanggan sebaiknya tidak dimasukkan begitu saja ke sistem tanpa memeriksa kebutuhan, kewenangan, dan ketentuan perlindungan data.

Jika pekerjaan bisa diselesaikan menggunakan data contoh, pilih cara tersebut. Semakin sedikit informasi sensitif yang diproses, semakin kecil pula paparan yang perlu dikelola.

Delapan Kebiasaan agar Penggunaan AI Lebih Aman

Ada beberapa langkah praktis yang dapat diterapkan tanpa harus memiliki pengetahuan teknis yang mendalam.

1. Pikirkan sebelum mengunggah. Sebelum memasukkan dokumen atau informasi ke AI, tanyakan apakah data tersebut benar-benar diperlukan untuk menyelesaikan tugas.

2. Samarkan informasi pribadi. Ganti nama, alamat, nomor identitas, dan detail lain dengan data contoh jika informasi asli tidak diperlukan.

3. Baca kebijakan privasi. Periksa bagaimana layanan menangani data, termasuk pilihan pengaturan privasi dan penggunaan informasi untuk meningkatkan layanan jika dijelaskan oleh penyedia.

4. Gunakan layanan yang sesuai dengan kebutuhan. Untuk pekerjaan yang melibatkan data internal, gunakan layanan yang telah disetujui oleh organisasi dan memenuhi persyaratan keamanan yang relevan.

5. Periksa pengaturan akun. Tinjau pilihan privasi dan kontrol data yang tersedia. Jangan berasumsi bahwa semua layanan memiliki pengaturan yang sama.

6. Verifikasi hasil AI. Periksa kembali fakta, angka, kutipan, dan informasi penting sebelum menggunakannya dalam laporan atau publikasi.

7. Jangan membagikan akses rahasia. Kata sandi, PIN, kode OTP, dan kredensial internal bukan bahan untuk dimasukkan ke dalam percakapan AI.

8. Siapkan jalur koreksi. Jika AI digunakan dalam layanan organisasi, pastikan pengguna mengetahui cara melaporkan kesalahan atau meminta pemeriksaan ulang ketika hasil sistem merugikan mereka.

Langkah-langkah tersebut bukan jaminan bahwa semua risiko dapat dihilangkan. Namun, kebiasaan ini membantu pengguna mengambil keputusan yang lebih sadar ketika memanfaatkan teknologi.

AI yang Bertanggung Jawab Membutuhkan Peran Pengembang dan Pengguna

Menjaga privasi tidak bisa dibebankan hanya kepada orang yang menggunakan AI. Pengembang layanan dan organisasi yang menerapkannya juga memiliki peran penting.

Pengembang perlu memperhatikan keamanan sistem, membatasi akses terhadap data sesuai kebutuhan, menjelaskan praktik pengelolaan informasi, serta menyediakan mekanisme untuk menangani laporan dan kesalahan. Sistem yang digunakan dalam konteks berisiko tinggi juga memerlukan pengujian dan pengawasan yang sesuai.

Organisasi yang menerapkan AI perlu memastikan bahwa penggunaan teknologi tersebut memiliki tujuan yang jelas. Data yang dikumpulkan harus relevan dengan kebutuhan, aksesnya dikelola dengan baik, dan hasil sistem tidak diterima begitu saja tanpa mempertimbangkan dampaknya.

Di sisi pengguna, sikap kritis tetap diperlukan. Jangan menganggap semua hasil AI pasti benar, jangan membagikan informasi sensitif secara sembarangan, dan jangan menjadikan teknologi sebagai satu-satunya dasar untuk mengambil keputusan penting.

Ketika ketiga pihak tersebut menjalankan perannya, manfaat AI dapat digunakan secara lebih bertanggung jawab. Tujuannya bukan menghambat inovasi, melainkan memastikan bahwa perkembangan teknologi tidak mengorbankan keamanan, privasi, dan kepentingan manusia.

Kesimpulan: Teknologi Harus Membantu Manusia, Bukan Mengabaikan Haknya

AI menawarkan banyak kemudahan. Teknologi ini dapat membantu menyusun tulisan, mengolah informasi, membuat gambar, dan mendukung pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu lebih lama. Namun, manfaat tersebut perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai risiko yang mungkin muncul.

Data pribadi tidak boleh dibagikan tanpa pertimbangan. Hasil AI perlu diperiksa sebelum digunakan untuk keputusan penting. Organisasi yang menerapkan sistem otomatis juga perlu menyediakan pengawasan dan mekanisme koreksi yang sesuai.

Bagi pengguna sehari-hari, langkah awalnya cukup sederhana: pikirkan informasi apa yang akan dibagikan, pahami pengaturan privasi, gunakan layanan yang sesuai, dan periksa kembali hasil yang diberikan AI.

Bagi pengembang dan organisasi, tanggung jawabnya lebih luas, mulai dari menjaga keamanan data hingga memastikan sistem digunakan secara transparan dan tidak menimbulkan kerugian yang dapat dicegah.

Perkembangan AI akan terus berlanjut. Karena itu, kemampuan menggunakan teknologi dengan bijak menjadi semakin penting, bukan hanya bagi orang yang bekerja di bidang teknologi, tetapi juga bagi masyarakat umum.

AI seharusnya menjadi alat yang membantu manusia bekerja lebih baik. Kemudahan itu akan lebih bermakna ketika privasi tetap terlindungi, keputusan dapat diperiksa, dan hak pengguna tetap dihormati.


Sumber Referensi

ANTARA. Pemberitaan mengenai paparan Kementerian Komunikasi dan Digital tentang strategi mencegah penyalahgunaan AI, 11 Februari 2025.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi.