Advertisement

Sebelum Membagikan Video Viral, Periksa Dulu: Ini Cara Menghindari Hoaks Deepfake

Pernah menerima video mengejutkan di grup WhatsApp keluarga, lalu beberapa menit kemudian melihat video yang sama muncul di media sosial? Isinya bisa bermacam-macam, mulai dari pernyataan seorang tokoh, kejadian yang diklaim baru berlangsung, hingga rekaman yang membuat orang marah, takut, atau penasaran. Biasanya, video seperti ini cepat menyebar karena banyak orang merasa perlu segera membagikannya kepada orang lain.

Masalahnya, tidak semua video yang ramai diperbincangkan benar-benar menggambarkan kejadian yang sebenarnya. Ada video lama yang diunggah kembali dengan keterangan baru, rekaman asli yang dipotong sehingga kehilangan konteks, hingga konten yang telah dimanipulasi menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Teknologi AI membuat proses pembuatan dan penyuntingan konten digital semakin mudah. Salah satu teknologi yang perlu dipahami masyarakat adalah deepfake, yaitu gambar, video, atau suara yang dibuat atau dimanipulasi sehingga seseorang terlihat atau terdengar seolah-olah mengatakan maupun melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi.

Bayangkan Anda menerima video yang memperlihatkan seseorang sedang menyampaikan pernyataan kontroversial. Wajahnya terlihat jelas, suaranya terdengar meyakinkan, dan video tersebut sudah dibagikan oleh puluhan orang. Tanpa memeriksa sumbernya, Anda mungkin langsung percaya bahwa peristiwa itu benar-benar terjadi.

Padahal, banyaknya orang yang membagikan sebuah video tidak otomatis membuktikan kebenarannya. Bisa saja semua orang hanya meneruskan konten dari sumber yang sama tanpa melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.

Pada 23 Januari 2025, ANTARA memberitakan patroli siber yang dilakukan Polri dan Kementerian Komunikasi dan Digital untuk mencegah penyalahgunaan AI dalam pembuatan video deepfake. Pemberitaan tersebut menjadi pengingat bahwa perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan kemampuan masyarakat untuk memeriksa informasi secara kritis.

Lalu, bagaimana cara mengetahui apakah sebuah video layak dipercaya? Apa yang harus dilakukan sebelum membagikannya ke media sosial atau grup percakapan? Berikut pembahasan lengkap yang bisa diterapkan dalam aktivitas digital sehari-hari.

Mengapa Video Viral Tidak Selalu Bisa Dipercaya?

Video sering dianggap lebih meyakinkan daripada tulisan karena kita dapat melihat gambar dan mendengar suara secara langsung. Ketika melihat seseorang berbicara di depan kamera, misalnya, kita cenderung menganggap rekaman tersebut sebagai bukti bahwa orang itu memang mengucapkan kalimat yang terdengar.

Namun, sebuah video bisa menyesatkan meskipun tidak menggunakan deepfake.

Salah satu contohnya adalah video lama yang kembali beredar dengan keterangan seolah-olah baru terjadi hari ini. Rekamannya mungkin asli, tetapi tanggal dan konteks yang menyertainya keliru. Orang yang menontonnya akhirnya mendapatkan gambaran yang salah mengenai sebuah peristiwa.

Ada pula video yang hanya menampilkan sebagian kejadian. Potongan pendek tersebut dapat membuat seseorang terlihat mengatakan sesuatu yang berbeda dari maksud sebenarnya. Tanpa melihat rekaman lengkap atau membaca penjelasan tambahan, penonton bisa menarik kesimpulan yang keliru.

Risiko lainnya adalah penggunaan AI untuk mengubah wajah, suara, atau gerakan seseorang. Konten seperti ini dapat dibuat untuk hiburan, tetapi juga berpotensi dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi palsu, melakukan penipuan, atau merusak reputasi orang lain.

Karena itu, ketika menemukan video viral, pertanyaan pertama sebaiknya bukan, โ€œSeberapa mengejutkan video ini?โ€ melainkan, โ€œDari mana video ini berasal dan apakah ada bukti yang mendukung isinya?โ€

Kebiasaan sederhana tersebut membantu kita membedakan antara konten yang menarik perhatian dan informasi yang benar-benar dapat dipercaya.

Mengenal Deepfake dan Risiko Penyalahgunaannya

Deepfake memanfaatkan teknologi AI untuk menghasilkan atau memanipulasi konten visual maupun suara. Dalam beberapa kasus, wajah seseorang dapat dibuat seolah-olah sedang berbicara dengan kalimat tertentu. Suara seseorang juga dapat ditiru sehingga terdengar mirip dengan suara aslinya.

Teknologi ini tidak selalu digunakan untuk tujuan buruk. Dalam industri kreatif, efek visual, hiburan, dan produksi film, teknologi serupa dapat dimanfaatkan secara sah dengan memperhatikan persetujuan dan hak orang yang terlibat.

Masalah muncul ketika konten dibuat atau disebarkan untuk menipu orang lain.

Misalnya, sebuah video memperlihatkan seorang tokoh seolah-olah memberikan pengumuman penting. Video tersebut kemudian dibagikan dengan keterangan yang memancing emosi. Jika penonton tidak memeriksa sumbernya, konten itu bisa memengaruhi opini atau menimbulkan kesalahpahaman.

Contoh lain adalah penipuan yang memanfaatkan suara tiruan. Seseorang menerima panggilan yang terdengar seperti anggota keluarganya dan diminta segera mengirim uang. Karena situasinya dibuat mendesak, korban mungkin tidak sempat memastikan identitas penelepon.

Deepfake juga dapat digunakan untuk membuat konten yang merugikan reputasi seseorang. Dalam situasi tertentu, korban mungkin harus menghadapi tuduhan atau kesalahpahaman yang menyebar lebih cepat daripada klarifikasi yang dapat diberikan.

Hal penting yang perlu diingat adalah tidak semua video palsu merupakan deepfake. Manipulasi biasa, penyuntingan selektif, penggunaan rekaman lama, dan keterangan yang menyesatkan juga dapat menghasilkan hoaks.

Oleh sebab itu, pemeriksaan tidak boleh hanya berfokus pada apakah wajah atau suara terlihat janggal. Sumber, tanggal, konteks, dan bukti pendukung sama pentingnya.

1. Cari Sumber Asli Sebelum Mempercayai Video

Langkah pertama yang sebaiknya dilakukan adalah mencari tahu siapa yang pertama kali mengunggah video tersebut.

Ketika video beredar di WhatsApp atau media sosial, perhatikan apakah pengirim menyertakan sumber yang jelas. Apakah video berasal dari akun resmi, media berita, saksi yang dapat diidentifikasi, atau justru akun anonim tanpa keterangan yang memadai?

Jika tidak ada informasi mengenai sumbernya, jangan langsung menganggap video itu sebagai bukti. Cobalah mencari kalimat yang diucapkan, nama orang yang muncul, lokasi kejadian, atau informasi penting lainnya melalui mesin pencari.

Sebagai contoh, Anda menerima video yang diklaim menunjukkan sebuah peristiwa di Jakarta pada pagi hari. Sebelum meneruskannya, cari kata kunci mengenai peristiwa tersebut dan periksa apakah ada laporan dari media yang dapat dipercaya atau keterangan resmi dari pihak terkait.

Jika menemukan unggahan yang diduga sebagai sumber awal, periksa tanggal publikasi dan konteksnya. Pastikan unggahan itu benar-benar berkaitan dengan kejadian yang sedang dibicarakan.

Perlu diingat, tidak ditemukannya video di media berita bukan berarti video tersebut otomatis palsu. Peristiwa lokal mungkin belum diberitakan, dan tidak semua rekaman berasal dari media profesional. Namun, jika sumbernya tidak dapat ditelusuri, kita sebaiknya tidak menyebarkannya sebagai fakta yang sudah terkonfirmasi.

2. Periksa Tanggal, Lokasi, dan Konteks Kejadian

Salah satu kesalahan yang sering terjadi ketika sebuah video viral adalah menganggap bahwa rekaman tersebut pasti baru saja dibuat.

Padahal, video lama bisa muncul kembali setelah berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Keterangan yang menyertainya kemudian diubah agar terlihat relevan dengan kejadian terkini.

Misalnya, sebuah video kerumunan massa yang direkam pada tahun sebelumnya dibagikan kembali dengan keterangan bahwa kejadian itu berlangsung hari ini. Jika penonton tidak memeriksa tanggal dan lokasinya, mereka bisa menganggap situasinya masih berlangsung dan ikut menyebarkan informasi yang salah.

Untuk menghindari kesalahan seperti ini, perhatikan tanggal unggahan pertama jika tersedia. Cari petunjuk lokasi yang terlihat di dalam video, seperti nama jalan, bangunan, papan petunjuk, atau kondisi lingkungan. Kemudian, bandingkan dengan informasi yang diberikan oleh pengunggah.

Periksa pula apakah cuaca, waktu kejadian, atau detail lain sesuai dengan narasi yang disampaikan. Petunjuk tersebut tidak selalu cukup untuk membuktikan keaslian video, tetapi dapat membantu menemukan ketidaksesuaian.

Jangan lupa membedakan tanggal video direkam, tanggal pertama kali diunggah, dan tanggal ketika video kembali viral. Ketiganya bisa berbeda.

3. Bandingkan dengan Pemberitaan Media yang Tepercaya

Jika video berisi informasi penting, cari pemberitaan dari beberapa media yang memiliki proses verifikasi editorial. Langkah ini sangat berguna ketika konten menyangkut tokoh publik, kebijakan pemerintah, peristiwa darurat, atau kejadian yang dapat memicu kepanikan.

Jangan hanya membaca judul. Perhatikan isi berita, waktu penerbitan, sumber informasi yang digunakan, dan apakah laporan tersebut benar-benar membahas kejadian yang sama.

Apabila video mengklaim menampilkan pengumuman resmi, periksa kanal resmi lembaga atau orang yang bersangkutan. Jika berupa pernyataan perusahaan, lihat apakah ada siaran pers atau penjelasan dari perusahaan tersebut.

Perlu diingat bahwa banyaknya akun yang membagikan video tidak sama dengan banyaknya sumber independen. Puluhan akun mungkin hanya menyalin satu unggahan tanpa memeriksa kebenarannya.

Sebaliknya, jika sejumlah sumber tepercaya melaporkan kejadian yang sama berdasarkan bukti masing-masing, informasi itu memiliki dasar yang lebih kuat untuk diperiksa lebih lanjut. Meski begitu, tetap baca konteksnya dan jangan menganggap setiap laporan pasti sempurna.

Kebiasaan membandingkan sumber membantu kita menghindari kesalahan akibat hanya mengandalkan satu unggahan yang belum jelas asal-usulnya.

4. Perhatikan Kejanggalan pada Wajah, Gerakan, dan Suara

Video yang dimanipulasi menggunakan AI terkadang memperlihatkan ketidakkonsistenan pada wajah, gerakan bibir, ekspresi, pencahayaan, atau suara.

Contohnya, gerakan bibir mungkin tampak kurang selaras dengan ucapan. Tepi wajah dapat terlihat tidak konsisten ketika kepala bergerak, atau pencahayaan pada wajah terasa berbeda dari lingkungan sekitarnya. Dalam rekaman suara, intonasi, jeda, atau pengucapan tertentu mungkin terdengar kurang alami.

Namun, tanda-tanda tersebut harus diperlakukan sebagai petunjuk, bukan bukti mutlak.

Video dengan kualitas rendah, koneksi internet yang buruk, kompresi, pencahayaan yang tidak memadai, dan penyuntingan biasa juga dapat menghasilkan kejanggalan serupa. Sebaliknya, konten hasil manipulasi yang dibuat dengan baik mungkin sulit dikenali hanya melalui pengamatan biasa.

Karena itu, hindari menyimpulkan bahwa seseorang telah menggunakan deepfake hanya karena kedipan matanya terlihat tidak biasa atau gerakan bibirnya kurang tepat. Periksa sumber dan konteksnya terlebih dahulu.

Jika konten tersebut penting, gunakan beberapa metode verifikasi sekaligus. Bandingkan rekaman dengan sumber lain, cari pernyataan resmi, dan periksa apakah ada bukti yang mendukung atau membantah isi video.

5. Waspadai Video yang Sengaja Memancing Emosi

Mengapa sebagian hoaks cepat menyebar? Salah satu alasannya adalah karena konten tersebut memicu reaksi emosional yang kuat.

Video yang membuat marah, takut, sedih, atau sangat penasaran sering mendorong orang untuk segera memberikan komentar atau meneruskannya kepada orang lain. Dalam keadaan seperti itu, pemeriksaan fakta kadang menjadi hal terakhir yang dilakukan.

Misalnya, sebuah video memperlihatkan kejadian yang dianggap tidak adil. Keterangan yang menyertainya langsung menuduh seseorang sebagai pelaku, padahal belum ada informasi lengkap mengenai peristiwa tersebut.

Jika video itu dibagikan secara luas, orang yang dituduh bisa mengalami kerugian reputasi meskipun informasi awalnya belum terbukti. Setelah klarifikasi muncul, belum tentu semua orang yang melihat unggahan pertama juga membaca penjelasannya.

Karena itu, ketika sebuah video membuat Anda sangat marah atau takut, berhentilah sejenak sebelum memberikan reaksi. Tanyakan kepada diri sendiri apakah informasi tersebut sudah terverifikasi atau hanya disertai narasi yang dirancang untuk memancing emosi.

Jangan langsung menyimpulkan kesalahan seseorang hanya dari potongan rekaman. Periksa apakah ada konteks tambahan, pernyataan dari pihak terkait, atau laporan yang lebih lengkap.

Menunda reaksi bukan berarti tidak peduli terhadap suatu masalah. Justru dengan memeriksa informasi terlebih dahulu, kita dapat merespons secara lebih tepat dan bertanggung jawab.

6. Gunakan Pencarian Gambar untuk Menelusuri Video

Jika video yang beredar menampilkan adegan tertentu, salah satu cara yang dapat dicoba adalah mengambil tangkapan layar dari bagian yang paling jelas, lalu menelusurinya melalui layanan pencarian gambar.

Cara ini dapat membantu menemukan unggahan lain yang memakai gambar serupa atau mengungkap bahwa cuplikan tersebut berasal dari video lama.

Pilih bagian yang menampilkan objek atau latar yang mudah dikenali. Jika video memuat beberapa adegan, coba periksa lebih dari satu tangkapan layar agar hasil pencarian tidak hanya bergantung pada satu gambar.

Hasil pencarian perlu ditafsirkan dengan hati-hati. Tidak ditemukannya gambar yang sama bukan berarti video itu asli atau baru. Sebaliknya, ditemukannya gambar serupa juga tidak otomatis membuktikan adanya penipuan; gambar tersebut mungkin memang berasal dari peristiwa yang sama.

Pencarian gambar merupakan alat bantu untuk menelusuri jejak konten, bukan pengganti pemeriksaan fakta secara menyeluruh.

Jika menggunakan layanan pihak ketiga, hindari mengunggah rekaman pribadi atau materi sensitif tanpa memahami bagaimana berkas tersebut diproses.

7. Jangan Langsung Mempercayai Alat Pendeteksi Deepfake

Saat ini terdapat berbagai layanan yang mengklaim mampu mendeteksi konten hasil manipulasi AI. Sebagian alat dapat membantu menganalisis pola gambar atau audio, tetapi hasilnya tidak selalu tepat.

Sebuah alat mungkin salah menandai video asli sebagai konten sintetis. Sebaliknya, video yang dimanipulasi bisa saja tidak terdeteksi, terutama jika format, kualitas, atau teknik manipulasi berbeda dari data yang digunakan untuk mengembangkan alat tersebut.

Oleh karena itu, jangan menjadikan satu hasil pemeriksaan otomatis sebagai dasar tunggal untuk menuduh seseorang atau menyatakan suatu video pasti palsu.

Jika menggunakan alat pendeteksi, perhatikan penjelasan hasilnya dan pahami keterbatasannya. Bandingkan dengan sumber asli, informasi pendukung, serta pemeriksaan lain yang relevan.

Untuk konten yang berdampak besar terhadap reputasi seseorang, keputusan penting, atau keselamatan, pemeriksaan sebaiknya dilakukan lebih hati-hati. Jika diperlukan, mintalah bantuan pihak yang memiliki keahlian forensik digital.

8. Verifikasi Permintaan Uang atau Informasi Rahasia

Tidak semua deepfake bertujuan membuat berita palsu. Sebagian penyalahgunaan teknologi dapat diarahkan untuk memperoleh uang atau informasi sensitif.

Bayangkan Anda menerima panggilan video dari seseorang yang terlihat seperti rekan kerja. Ia meminta transfer dana dengan alasan ada kebutuhan mendesak. Wajah dan suaranya terasa akrab, tetapi permintaannya tidak biasa.

Jangan langsung melakukan transfer. Hubungi orang tersebut melalui nomor yang sudah tersimpan atau saluran komunikasi lain yang telah dikenal. Jika berkaitan dengan pekerjaan, ikuti prosedur persetujuan dan verifikasi perusahaan.

Hal yang sama berlaku untuk permintaan kode OTP, PIN, kata sandi, dokumen identitas, atau akses ke perangkat. Jangan memberikan informasi tersebut hanya karena penelepon terdengar seperti orang yang Anda kenal.

Jika memungkinkan, buat prosedur verifikasi untuk permintaan yang sensitif. Dalam lingkungan kerja, perubahan rekening atau pembayaran bernilai besar sebaiknya memerlukan konfirmasi melalui kanal kedua.

Kebiasaan ini tidak hanya berguna untuk menghadapi deepfake. Cara tersebut juga dapat membantu mencegah penipuan yang menggunakan nomor palsu, akun yang diretas, atau identitas yang dicuri.

9. Jangan Ikut Menyebarkan Konten yang Belum Terverifikasi

Setelah melihat video yang mengejutkan, sebagian orang langsung meneruskannya dengan alasan ingin memperingatkan teman atau keluarga. Niatnya mungkin baik, tetapi membagikan konten yang belum terverifikasi tetap dapat memperluas penyebaran informasi keliru.

Bahkan, menambahkan keterangan seperti โ€œbelum tentu benarโ€ tidak selalu mencegah orang lain mempercayai isi video. Mereka mungkin hanya melihat cuplikannya, mengabaikan peringatan, atau meneruskannya lagi tanpa konteks.

Jika belum mengetahui kebenaran sebuah video, pilihan paling aman adalah tidak membagikannya sebagai fakta. Jika perlu memberi tahu keluarga tentang potensi penipuan, jelaskan pola risikonya tanpa harus meneruskan konten yang belum jelas.

Apabila video sudah terbukti menyesatkan, Anda dapat membagikan klarifikasi dari sumber yang dapat dipercaya. Pastikan klarifikasi tersebut benar-benar membahas konten yang sama dan tidak sekadar berupa opini dari akun lain.

Jika terlanjur menyebarkan video yang ternyata salah, hapus atau koreksi unggahan tersebut bila memungkinkan. Sampaikan penjelasan kepada orang yang menerima agar mereka tidak terus meneruskannya.

Mengakui kesalahan bukan sesuatu yang memalukan. Justru tindakan tersebut menunjukkan tanggung jawab terhadap informasi yang kita bagikan.

10. Apa yang Harus Dilakukan Jika Menemukan Video yang Diduga Hoaks?

Jika menemukan video yang dicurigai sebagai hoaks atau deepfake, jangan terburu-buru membuat tuduhan. Mulailah dengan menyimpan tautan unggahan dan mencatat informasi yang diperlukan untuk memeriksa sumbernya.

Cari unggahan awal, periksa tanggal dan konteks, lalu bandingkan dengan informasi dari sumber lain. Jika video menampilkan seseorang yang dikenal, jangan langsung menghubungi atau menuduhnya secara terbuka berdasarkan dugaan semata.

Jika konten tersebut melanggar aturan platform, gunakan fitur pelaporan yang tersedia. Apabila video digunakan untuk penipuan, pemerasan, ancaman, atau penyalahgunaan identitas, simpan bukti yang relevan dan pertimbangkan melaporkannya kepada pihak yang berwenang.

Hindari mengunduh atau menyebarkan ulang materi sensitif yang dapat merugikan korban. Ketika membagikan klarifikasi, gunakan bahasa yang netral dan jelaskan bagian mana yang sudah diketahui serta bagian mana yang masih belum terkonfirmasi.

Penting juga untuk membedakan antara video yang sudah terbukti palsu dan video yang belum dapat diverifikasi. Jika bukti belum cukup, sampaikan bahwa keasliannya belum dapat dipastikan, bukan langsung menyatakan bahwa seseorang telah memanipulasinya.

Peran Masyarakat dalam Mencegah Penyebaran Hoaks

Upaya mencegah hoaks tidak bisa hanya mengandalkan media berita, pemerintah, atau perusahaan teknologi. Setiap pengguna internet memiliki peran ketika menerima dan membagikan informasi.

Di lingkungan keluarga, orang tua dapat mengingatkan anggota keluarga untuk memeriksa sumber sebelum meneruskan video. Di sekolah, literasi digital dapat membantu siswa memahami perbedaan antara fakta, opini, dan konten manipulatif. Di tempat kerja, prosedur verifikasi dapat diterapkan untuk mencegah penipuan yang menyasar pembayaran atau informasi rahasia.

Kebiasaan ini perlu dibangun secara konsisten, bukan hanya ketika sebuah video sedang ramai dibicarakan. Semakin banyak orang yang terbiasa memeriksa sumber dan konteks, semakin kecil kemungkinan informasi keliru menyebar tanpa pemeriksaan.

Kita juga perlu menjaga sikap ketika menemukan konten yang belum jelas. Jangan mempermalukan orang yang membagikannya dengan niat baik, tetapi berikan penjelasan dan sumber yang dapat membantu mereka memahami persoalannya.

Tujuan pemeriksaan fakta bukan sekadar membuktikan siapa yang benar atau salah. Yang lebih penting adalah memastikan masyarakat memiliki informasi yang cukup untuk mengambil keputusan secara tepat.

Kesimpulan: Periksa Sebelum Membagikan

Video viral memang mudah menarik perhatian. Namun, popularitas sebuah konten tidak menjamin bahwa isi dan keterangannya benar. Video lama dapat diberi narasi baru, rekaman asli dapat dipotong dari konteksnya, dan teknologi AI dapat digunakan untuk memanipulasi wajah maupun suara.

Sebelum membagikan video, cari sumber asli, periksa tanggal dan lokasi, bandingkan dengan pemberitaan tepercaya, serta perhatikan apakah ada bukti pendukung yang memadai. Jika konten meminta uang atau informasi rahasia, lakukan konfirmasi melalui saluran komunikasi lain.

Jangan pula terlalu mengandalkan satu tanda visual atau hasil alat pendeteksi. Tidak semua video yang terlihat aneh adalah deepfake, dan tidak semua video yang tampak meyakinkan dapat dipercaya begitu saja.

Jika belum menemukan bukti yang cukup, tidak ada salahnya menunda atau membatalkan keinginan untuk membagikannya. Kita tidak harus selalu menjadi orang pertama yang menyampaikan sebuah kabar. Lebih baik sedikit terlambat tetapi informasinya telah diperiksa, daripada cepat menyebarkan sesuatu yang berpotensi merugikan orang lain.

Pada akhirnya, menjaga ruang digital tetap sehat dimulai dari keputusan sederhana yang kita ambil setiap hari. Sebelum menekan tombol bagikan, luangkan waktu untuk bertanya: dari mana video ini berasal, apakah konteksnya benar, dan apakah saya memiliki alasan yang cukup untuk mempercayainya?

Ingat, jangan mudah percaya, tetapi jangan pula mudah menuduh. Periksa sumbernya, pastikan konteksnya, dan bagikan informasi secara bertanggung jawab.