Pernah menerima pesan suara dari seseorang yang terdengar sangat mirip dengan teman, saudara, atau rekan kerja sendiri? Bayangkan jika orang tersebut meminta bantuan transfer uang karena sedang mengalami keadaan darurat. Suaranya terdengar akrab, cara bicaranya meyakinkan, bahkan informasi yang disampaikan terasa masuk akal. Dalam situasi seperti ini, banyak orang mungkin langsung percaya tanpa berpikir panjang.
Namun, bagaimana jika suara tersebut ternyata bukan berasal dari orang yang sebenarnya?
Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat manipulasi gambar, video, dan suara semakin mudah dilakukan. Salah satu teknologi yang menjadi perhatian adalah deepfake, yaitu konten sintetis yang dibuat atau dimanipulasi menggunakan AI sehingga seseorang terlihat atau terdengar seolah-olah mengatakan maupun melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi.
Deepfake bukan lagi sekadar bahan eksperimen teknologi atau hiburan di media sosial. Dalam kondisi tertentu, teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk penipuan, penyebaran informasi menyesatkan, pemalsuan identitas, hingga tindakan yang merugikan reputasi seseorang. Masalahnya, konten hasil manipulasi tidak selalu terlihat aneh. Sebagian justru dibuat agar tampak seperti rekaman asli yang biasa kita temukan di internet.
Pada 14 Januari 2025, ANTARA mengulas prediksi keamanan siber tahun 2025, termasuk risiko deepfake dan perkembangan ancaman digital lainnya. Pembahasan tersebut menjadi pengingat bahwa masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan ketika menerima video, rekaman suara, atau pesan yang meminta tindakan tertentu.
Lantas, bagaimana cara mengenali konten yang patut dicurigai? Apakah video deepfake selalu memiliki tanda-tanda yang mudah terlihat? Dan apa yang sebaiknya dilakukan ketika menerima panggilan atau pesan yang diduga menggunakan suara palsu?
Apa Itu Deepfake dan Mengapa Semakin Perlu Diwaspadai?
Secara sederhana, deepfake merupakan konten gambar, video, atau audio yang dibuat maupun dimanipulasi menggunakan teknik AI untuk meniru penampilan atau suara seseorang. Teknologi ini dapat digunakan untuk berbagai tujuan, mulai dari hiburan, produksi film, hingga kebutuhan kreatif yang sah. Namun, risikonya muncul ketika konten tersebut digunakan untuk menipu, memfitnah, atau membuat orang percaya pada kejadian yang sebenarnya tidak pernah berlangsung.
Pada video, misalnya, wajah seseorang dapat dibuat seolah-olah sedang berbicara dengan kalimat tertentu. Pada audio, karakteristik suara seseorang dapat ditiru sehingga rekaman terdengar menyerupai orang yang dikenal oleh pendengar. Teknologi tertentu juga dapat menggabungkan gambar, gerakan bibir, dan suara agar menghasilkan rekaman yang tampak lebih meyakinkan.
Bayangkan seorang pegawai menerima panggilan yang seolah-olah berasal dari atasannya. Dalam panggilan tersebut, orang yang dianggap sebagai atasan meminta agar sejumlah uang segera ditransfer untuk keperluan mendesak. Karena suara dan gaya bicaranya terasa familiar, pegawai tersebut mungkin tidak terpikir untuk mempertanyakan permintaan itu.
Contoh lain terjadi ketika anggota keluarga menerima pesan suara yang mengaku berasal dari anak atau saudaranya. Pesan tersebut mengatakan bahwa ia sedang mengalami masalah dan membutuhkan uang secepatnya. Dalam keadaan panik, penerima pesan bisa saja langsung mengirimkan uang tanpa memastikan kebenaran cerita tersebut.
Kedua contoh itu menggambarkan bagaimana penipuan berbasis tiruan identitas dapat memanfaatkan kepercayaan dan emosi manusia. Meski demikian, kemiripan suara saja tidak membuktikan bahwa sebuah pesan merupakan deepfake. Penipuan juga bisa dilakukan oleh orang yang menggunakan rekaman asli, informasi hasil kebocoran data, atau cerita palsu tanpa bantuan AI.
Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan hanya teknologi yang digunakan, melainkan juga konteks pesan, identitas pengirim, dan tindakan yang diminta.
Mengapa Deepfake Bisa Menjadi Ancaman Serius?
Salah satu tantangan terbesar deepfake adalah kemampuannya membuat informasi palsu terlihat meyakinkan. Selama bertahun-tahun, banyak orang terbiasa menganggap video dan rekaman suara sebagai bukti yang cukup kuat. Jika seseorang terlihat berbicara di depan kamera, misalnya, penonton cenderung percaya bahwa orang tersebut memang mengucapkan kalimat yang terdengar.
Anggapan tersebut tidak lagi selalu aman dijadikan dasar kesimpulan. Konten digital dapat diedit, dipotong, digabungkan, atau dihasilkan dengan teknologi sintetis. Bahkan, rekaman asli pun bisa menyesatkan jika diambil di luar konteks atau diberi keterangan yang keliru.
Risiko pertama adalah penipuan finansial. Pelaku dapat mencoba meniru suara orang yang dipercaya korban untuk meminta transfer, pembayaran, atau informasi perbankan. Dalam lingkungan kerja, penyamaran identitas bisa digunakan untuk membuat permintaan pembayaran terlihat seperti instruksi resmi dari pimpinan.
Risiko kedua adalah penyebaran informasi palsu. Video yang menampilkan seseorang seolah-olah membuat pernyataan tertentu dapat memicu kesalahpahaman, konflik, atau kerusakan reputasi sebelum kebenarannya diketahui. Jika video tersebut tersebar luas, klarifikasi yang muncul belakangan belum tentu menjangkau semua orang yang sudah melihatnya.
Risiko ketiga berkaitan dengan privasi. Foto dan rekaman suara yang dibagikan secara terbuka dapat disalahgunakan untuk membuat konten manipulatif. Hal ini menjadi alasan tambahan bagi pengguna internet untuk lebih berhati-hati dalam membagikan informasi pribadi, terutama jika konten tersebut dapat digunakan di luar tujuan awalnya.
Ada pula risiko terhadap kepercayaan masyarakat. Ketika konten palsu semakin sulit dibedakan dari rekaman asli, orang bisa menjadi terlalu mudah percaya pada informasi yang sesuai dengan keyakinannya. Sebaliknya, mereka juga dapat menolak rekaman asli hanya karena menganggapnya hasil rekayasa.
Keadaan seperti ini membuat kemampuan memeriksa sumber informasi menjadi semakin penting. Kita tidak bisa hanya mengandalkan mata dan telinga, tetapi juga perlu melihat bukti pendukung serta konteks yang menyertai sebuah konten.
Enam Cara Mengenali Video atau Suara Deepfake
1. Perhatikan gerakan wajah dan bibir, tetapi jangan langsung menyimpulkan
Ketika menonton video seseorang berbicara, perhatikan apakah gerakan bibir, ekspresi wajah, dan suara terlihat selaras. Dalam beberapa konten manipulatif, mungkin terdapat bagian yang tampak kurang alami, seperti perubahan bentuk wajah pada momen tertentu, batas wajah yang terlihat janggal, atau gerakan mulut yang tidak sesuai dengan suara.
Perhatikan juga perpindahan kepala, arah pandangan, pencahayaan, serta bagaimana wajah berinteraksi dengan latar belakang. Ketidakkonsistenan dapat menjadi alasan untuk memeriksa lebih lanjut.
Namun, tanda-tanda tersebut bukan bukti pasti. Video dengan kualitas rendah, pencahayaan buruk, kompresi berlebihan, atau gangguan saat direkam juga dapat menghasilkan tampilan yang aneh. Sebaliknya, deepfake yang dibuat dengan baik mungkin tidak menunjukkan kejanggalan yang mudah dikenali.
Jadi, jangan langsung menuduh sebuah video palsu hanya karena gerakan bibir atau ekspresinya terlihat tidak biasa. Gunakan kejanggalan visual sebagai petunjuk awal, kemudian lanjutkan pemeriksaan terhadap sumber dan konteksnya.
2. Dengarkan suara dengan lebih teliti
Pada rekaman audio, perhatikan apakah intonasi, jeda, tekanan kata, dan cara berbicara terasa sesuai dengan konteks. Beberapa rekaman sintetis mungkin memiliki pengucapan yang terlalu rata, perubahan nada yang tidak wajar, atau transisi suara yang terasa janggal.
Akan tetapi, suara manusia juga dapat terdengar berbeda ketika sedang lelah, sakit, gugup, berbicara melalui telepon, atau berada di lingkungan yang bising. Karena itu, karakter suara saja tidak cukup untuk menentukan apakah suatu rekaman asli.
Jika menerima pesan suara yang meminta uang atau informasi sensitif, jangan menjadikan kemiripan suara sebagai satu-satunya dasar kepercayaan. Hubungi orang tersebut melalui nomor yang sudah Anda simpan atau gunakan jalur komunikasi lain yang telah dikenal sebelumnya.
Khusus untuk permintaan yang mendesak, lakukan verifikasi sebelum bertindak. Beberapa menit untuk memastikan identitas jauh lebih baik daripada mengambil keputusan finansial yang tidak dapat dibatalkan dengan mudah.
3. Cari sumber asli video atau rekaman
Salah satu cara paling berguna untuk memeriksa konten mencurigakan adalah mencari tahu dari mana konten itu pertama kali berasal.
Jika menemukan video viral di media sosial, jangan hanya membaca keterangan dari akun yang membagikannya. Cari unggahan asli, periksa nama akun, tanggal publikasi, dan apakah pemilik konten memberikan konteks yang jelas.
Apabila video mengklaim menampilkan pernyataan resmi, periksa apakah rekaman tersebut tersedia di kanal resmi orang atau lembaga yang bersangkutan. Jika berkaitan dengan sebuah peristiwa, cari laporan dari media yang memiliki proses verifikasi editorial.
Perhatikan pula kemungkinan video lama diunggah kembali dengan narasi baru. Rekaman yang benar-benar asli tetap dapat digunakan untuk menyampaikan informasi menyesatkan apabila tanggal, lokasi, atau konteksnya sengaja diubah.
Jika sumber awal tidak ditemukan, bukan berarti video tersebut pasti palsu. Namun, ketiadaan sumber yang jelas merupakan alasan untuk menahan diri sebelum menyebarkannya sebagai fakta.
4. Bandingkan informasi dengan sumber lain yang tepercaya
Konten yang mengundang perhatian biasanya cepat menyebar. Ketika sebuah video memperlihatkan kejadian mengejutkan, kita mungkin melihatnya di beberapa akun sekaligus dan mengira banyaknya unggahan membuktikan bahwa informasi tersebut benar.
Padahal, banyak akun bisa saja mengutip sumber yang sama tanpa melakukan pemeriksaan mandiri. Pengulangan informasi bukanlah bukti bahwa informasi tersebut akurat.
Cobalah mencari kata kunci dari pernyataan atau peristiwa yang muncul dalam video. Periksa apakah ada laporan yang relevan dari media tepercaya, pernyataan resmi, atau dokumentasi lain yang dapat dibandingkan.
Untuk informasi yang menyangkut layanan publik, perusahaan, atau organisasi tertentu, utamakan sumber resmi yang relevan. Untuk berita penting, bandingkan laporan dari beberapa sumber yang memiliki proses verifikasi yang jelas.
Jangan hanya mencari informasi yang mendukung dugaan awal Anda. Perhatikan juga bukti yang mungkin menunjukkan bahwa video tersebut dipotong, salah diberi keterangan, atau tidak berkaitan dengan peristiwa yang sedang dibicarakan.
5. Waspadai permintaan yang mendesak atau terlalu emosional
Penipuan berbasis penyamaran identitas sering kali memanfaatkan emosi. Korban dibuat panik, takut kehilangan kesempatan, merasa bersalah, atau khawatir terhadap keselamatan orang yang dikenalnya.
Misalnya, seseorang mengaku sebagai anggota keluarga yang mengalami kecelakaan dan meminta uang segera. Contoh lainnya, seseorang yang mengaku sebagai pimpinan meminta pegawai merahasiakan transfer karena dianggap sebagai urusan mendesak.
Dalam situasi seperti itu, tekanan waktu dapat membuat korban melewati langkah pemeriksaan yang biasanya dilakukan. Karena itulah, permintaan yang tidak biasa perlu diperiksa meskipun pengirimnya terdengar meyakinkan.
Jangan langsung melakukan transfer, mengirimkan kode OTP, memberikan kata sandi, atau membagikan dokumen penting hanya berdasarkan panggilan suara maupun video. Hubungi kembali pihak yang bersangkutan melalui nomor yang telah tersimpan atau kanal resmi yang sudah dikenal.
Jika memungkinkan, sepakati prosedur verifikasi untuk situasi darurat. Dalam perusahaan, misalnya, perubahan rekening atau transfer bernilai besar dapat diwajibkan melalui persetujuan tambahan. Dalam keluarga, anggota keluarga dapat menggunakan kata sandi atau pertanyaan konfirmasi yang telah disepakati sebelumnya, tanpa menjadikannya pengganti perlindungan akun yang memadai.
6. Gunakan alat pemeriksaan sebagai pendukung, bukan penentu tunggal
Sejumlah alat digital dikembangkan untuk membantu menganalisis kemungkinan manipulasi gambar, video, atau audio. Alat tersebut dapat memberikan petunjuk berdasarkan pola tertentu yang terdeteksi dalam sebuah berkas.
Namun, hasil pemeriksaan otomatis tidak selalu akurat. Sebuah alat bisa saja menandai konten asli sebagai mencurigakan atau gagal mengenali konten yang telah dimanipulasi. Hasilnya juga dapat dipengaruhi kualitas rekaman, format berkas, proses kompresi, dan jenis manipulasi yang dilakukan.
Karena itu, jangan menganggap hasil dari satu alat sebagai bukti final. Gabungkan pemeriksaan teknis dengan penelusuran sumber, konteks, dan konfirmasi dari pihak terkait.
Perhatikan pula privasi ketika menggunakan layanan pemeriksaan daring. Mengunggah rekaman pribadi atau dokumen sensitif ke layanan yang tidak dikenal dapat menciptakan risiko baru. Sebelum mengirimkan berkas, periksa kebijakan privasi dan pastikan Anda memiliki hak untuk membagikan konten tersebut.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Menerima Panggilan Deepfake?
Bayangkan ponsel Anda berdering. Seseorang yang terdengar seperti atasan menelepon dan meminta pembayaran segera kepada pemasok. Ia mengatakan bahwa transaksi harus diselesaikan dalam beberapa menit dan meminta Anda tidak menghubungi orang lain.
Dalam situasi seperti ini, langkah pertama adalah tidak terburu-buru memenuhi permintaan. Selesaikan komunikasi dengan sopan jika perlu, lalu hubungi atasan melalui nomor yang sudah tersimpan atau kanal komunikasi internal yang biasa digunakan.
Jika permintaan tersebut berkaitan dengan uang, ikuti prosedur persetujuan perusahaan. Jangan melewati proses hanya karena suara penelepon terdengar akrab atau ia mengetahui informasi internal tertentu.
Prinsip serupa berlaku ketika menerima panggilan yang mengaku berasal dari keluarga, bank, atau penyedia layanan digital. Jangan berikan kode OTP, PIN, kata sandi, maupun akses ke perangkat. Petugas yang meminta Anda menyerahkan kredensial rahasia perlu dicurigai.
Jika panggilan menyatakan seseorang berada dalam keadaan darurat, lakukan konfirmasi melalui jalur lain. Anda bisa menghubungi anggota keluarga lain atau nomor yang sebelumnya sudah diketahui. Jika menyangkut keselamatan seseorang, prioritaskan pemeriksaan langsung melalui sumber yang dapat dipercaya.
Hal terpenting adalah memisahkan dua hal: apakah identitas penelepon benar dan apakah permintaannya masuk akal. Sekalipun identitasnya telah terkonfirmasi, permintaan yang tidak biasa tetap perlu diperiksa sesuai prosedur.
Bagaimana Jika Video Deepfake Telanjur Viral?
Konten yang terlanjur tersebar luas tidak selalu mudah dihentikan. Ketika sebuah video telah disalin dan dibagikan oleh banyak akun, menghapus unggahan pertama belum tentu menghilangkan seluruh salinannya.
Jika Anda menemukan video yang diduga hasil manipulasi, jangan langsung meneruskannya dengan alasan ingin memperingatkan orang lain. Membagikan ulang konten tersebut, bahkan disertai komentar bahwa video itu palsu, dapat membuatnya menjangkau lebih banyak orang.
Langkah yang lebih bijak adalah menyimpan informasi yang diperlukan untuk pelaporan, seperti tautan unggahan, nama akun, waktu ditemukan, dan tangkapan layar yang relevan. Hindari menyebarkan ulang materi sensitif atau menampilkan informasi pribadi pihak yang menjadi korban.
Laporkan konten melalui fitur pelaporan platform jika diduga melanggar kebijakan. Jika konten digunakan untuk mengancam, memeras, menipu, atau merugikan seseorang, pertimbangkan mencari bantuan dari pihak berwenang atau tenaga profesional yang relevan.
Jika Anda menjadi korban, simpan bukti komunikasi dan dokumentasikan dampak yang terjadi. Jangan terburu-buru membayar pihak yang menjanjikan penghapusan konten dengan imbalan uang tanpa melakukan pemeriksaan. Jika masalah berkaitan dengan pencurian identitas atau transaksi, amankan akun dan hubungi penyedia layanan yang terkait.
Ketika memberikan klarifikasi, gunakan bahasa yang tenang dan berdasarkan bukti. Jelaskan bagian mana yang belum terverifikasi, tunjukkan sumber yang dapat diperiksa, dan hindari menyebarkan tuduhan kepada seseorang tanpa dasar yang memadai.
Peran Keluarga, Sekolah, dan Tempat Kerja
Menghadapi deepfake tidak cukup hanya dengan mengandalkan teknologi pendeteksi. Pengetahuan dan kebiasaan masyarakat juga perlu dibangun agar orang tidak mudah tertipu oleh konten yang terlihat meyakinkan.
Di lingkungan keluarga, orang tua dapat mengajak anak berdiskusi tentang video viral, identitas digital, dan pentingnya memeriksa sumber informasi. Anak perlu memahami bahwa sesuatu yang muncul di layar belum tentu benar, tetapi juga tidak perlu langsung menganggap semua konten digital sebagai palsu.
Di sekolah, literasi digital dapat mencakup latihan sederhana untuk membandingkan sumber, memeriksa tanggal publikasi, dan membedakan fakta dari opini. Tujuannya bukan membuat siswa curiga terhadap semua informasi, melainkan membiasakan mereka bertanya sebelum menarik kesimpulan.
Sementara itu, perusahaan dan organisasi perlu menyiapkan prosedur untuk mengantisipasi penyamaran identitas. Permintaan pembayaran, perubahan rekening, pembagian data sensitif, dan akses ke sistem penting sebaiknya tidak hanya bergantung pada suara atau video sebagai bukti otorisasi.
Prosedur verifikasi melalui kanal kedua, persetujuan berjenjang, serta pelatihan mengenai rekayasa sosial dapat membantu mengurangi risiko. Karyawan juga perlu merasa aman melaporkan permintaan yang mencurigakan tanpa takut disalahkan karena memilih memeriksa ulang.
Langkah-langkah ini tidak menjamin semua serangan dapat dicegah. Namun, kebiasaan melakukan verifikasi dapat mempersulit pelaku memanfaatkan kepercayaan dan tekanan waktu.
Jangan Sampai Teknologi Membuat Kita Kehilangan Kemampuan Berpikir Kritis
Deepfake memperlihatkan bahwa teknologi dapat menghasilkan konten yang tampak nyata, sementara manusia tetap memiliki keterbatasan dalam menilai apa yang dilihat dan didengarnya. Karena itu, kita perlu mengubah kebiasaan ketika menerima informasi digital.
Dulu, rekaman video mungkin dianggap sebagai bukti yang kuat. Sekarang, rekaman tetap dapat menjadi bukti penting, tetapi keasliannya perlu dinilai bersama konteks, sumber, dan bukti pendukung lainnya.
Di sisi lain, kita juga tidak boleh menjadikan istilah deepfake sebagai alasan untuk menolak semua rekaman yang tidak kita sukai. Tuduhan manipulasi perlu didukung alasan yang dapat diperiksa, bukan hanya perasaan bahwa suatu video terlihat aneh.
Sikap kritis berarti bersedia menunda kesimpulan sampai informasi yang cukup tersedia. Kita tidak harus langsung mengetahui apakah sebuah video asli atau palsu. Mengakui bahwa suatu konten belum dapat diverifikasi merupakan pilihan yang lebih bertanggung jawab daripada menyebarkan klaim yang belum terbukti.
Pada akhirnya, keamanan digital bukan hanya persoalan perangkat lunak, kecanggihan AI, atau alat pendeteksi. Keamanan juga berkaitan dengan kebiasaan manusia dalam mempercayai informasi, mengelola emosi, dan mengambil keputusan.














