Advertisement

Strategi UMKM Meningkatkan Penjualan Online Jelang Lebaran

Menjelang Lebaran, aktivitas belanja masyarakat biasanya mulai meningkat. Ada yang mencari kue kering untuk disajikan kepada tamu, pakaian baru untuk keluarga, hampers untuk kerabat, hingga berbagai perlengkapan rumah. Bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), periode ini bisa menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk kepada pelanggan baru sekaligus meningkatkan penjualan.

Namun, peluang tersebut tidak otomatis membuat bisnis mendapatkan keuntungan lebih besar. Banyaknya orang yang berbelanja memang bisa menjadi kabar baik, tetapi persaingan antarpedagang juga semakin ketat. Produk yang serupa bermunculan di marketplace, media sosial, dan grup percakapan. Konsumen pun memiliki banyak pilihan sebelum memutuskan membeli.

Karena itu, pelaku UMKM perlu menyiapkan strategi yang tepat. Berjualan secara online tidak cukup hanya dengan mengunggah foto produk lalu menunggu pesanan masuk. Ada banyak hal yang perlu diperhatikan, mulai dari tampilan katalog, cara menawarkan produk, pengelolaan stok, pelayanan pelanggan, hingga perhitungan keuntungan.

Kabar baiknya, strategi tersebut tidak harus membutuhkan modal besar. Dengan perencanaan yang sederhana dan konsisten, usaha kecil tetap bisa bersaing dan memanfaatkan momentum Lebaran dengan lebih baik.

1. Rapikan Katalog Produk Sebelum Mulai Promosi

Salah satu hal yang sering dianggap sepele oleh pelaku UMKM adalah tampilan katalog produk. Padahal, katalog merupakan bagian pertama yang dilihat calon pembeli ketika mengunjungi akun bisnis atau toko online.

Bayangkan seseorang sedang mencari hampers Lebaran. Ia menemukan dua penjual yang menawarkan produk serupa. Penjual pertama menampilkan foto yang jelas, mencantumkan harga, ukuran, isi paket, dan informasi pemesanan. Sementara itu, penjual kedua hanya mengunggah foto dengan keterangan singkat tanpa mencantumkan harga.

Kemungkinan besar, calon pembeli akan lebih mudah mempertimbangkan produk dari penjual pertama karena informasinya lengkap. Ia tidak perlu mengirim pesan berulang kali hanya untuk mengetahui harga atau isi paket.

Karena itu, sebelum menjalankan promosi, luangkan waktu untuk memeriksa kembali katalog produk.

Gunakan foto yang terang, tajam, dan menunjukkan produk secara jelas. Tidak harus menggunakan kamera profesional. Ponsel dengan pencahayaan yang cukup dan latar belakang sederhana sudah bisa menghasilkan foto yang layak untuk katalog.

Pastikan informasi penting juga tersedia, seperti:

  • Nama dan jenis produk.
  • Harga serta pilihan ukuran atau varian.
  • Isi paket, bahan, atau spesifikasi yang relevan.
  • Cara melakukan pemesanan.
  • Pilihan pembayaran dan pengiriman.
  • Estimasi waktu pemrosesan pesanan.

Jika menjual makanan, cantumkan informasi yang relevan seperti berat bersih, jenis kemasan, masa simpan, dan komposisi apabila diperlukan. Untuk pakaian, tampilkan ukuran dengan jelas agar pembeli tidak salah memilih.

Informasi yang lengkap bukan hanya memudahkan pelanggan. Bagi penjual, katalog yang rapi juga dapat mengurangi pertanyaan berulang sehingga waktu bisa digunakan untuk mengurus pesanan dan kegiatan usaha lainnya.

2. Buat Paket Promo yang Menarik, tetapi Tetap Menguntungkan

Diskon memang sering menjadi cara untuk menarik perhatian pembeli. Namun, memberikan potongan harga terlalu besar bukan satu-satunya strategi untuk meningkatkan penjualan.

Pelaku UMKM bisa mencoba paket bundling, yaitu menggabungkan beberapa produk dalam satu penawaran. Misalnya, penjual kue kering menawarkan paket dua toples dengan harga khusus, sedangkan penjual produk kecantikan membuat paket hadiah yang terdiri dari beberapa produk berukuran kecil.

Strategi ini dapat membantu pelanggan menemukan pilihan yang praktis, terutama ketika mereka membutuhkan hadiah untuk keluarga atau rekan kerja.

Pilihan lainnya adalah memberikan bonus kecil untuk pembelian dengan jumlah tertentu, menyediakan paket hemat, atau menawarkan harga khusus bagi pelanggan yang membeli beberapa produk sekaligus.

Meski begitu, setiap promo harus dihitung dengan cermat. Jangan sampai penjualan terlihat meningkat, tetapi keuntungan yang diperoleh justru semakin kecil.

Sebelum menetapkan harga promosi, hitung biaya bahan baku, kemasan, tenaga kerja, biaya platform, biaya pembayaran, serta ongkos promosi yang ditanggung penjual. Setelah itu, tentukan keuntungan yang ingin diperoleh dari setiap transaksi.

Sebagai contoh, jika sebuah paket hampers membutuhkan biaya produksi dan kemasan sebesar Rp65.000, penjual tidak sebaiknya langsung memberikan harga Rp70.000 tanpa mempertimbangkan biaya lainnya. Masih ada kemungkinan biaya transaksi, tenaga kerja, dan biaya operasional yang perlu ditutup.

Lebih baik menawarkan bonus yang biayanya terkendali daripada memberikan diskon besar yang menghabiskan margin keuntungan.

Ingat, tujuan promosi bukan sekadar membuat produk cepat terjual. Promosi yang baik seharusnya membantu usaha mendapatkan transaksi yang sehat dan tetap memberikan keuntungan.

3. Manfaatkan Konten yang Membantu Calon Pembeli

Di media sosial, tidak semua orang membuka aplikasi dengan niat langsung berbelanja. Sebagian hanya ingin mencari hiburan, melihat inspirasi, atau mendapatkan informasi.

Karena itu, pelaku UMKM sebaiknya tidak terus-menerus mengunggah promosi yang berisi ajakan membeli. Sesekali, buat konten yang membantu calon pelanggan memahami produk dan menemukan alasan mengapa produk tersebut layak dipertimbangkan.

Jika menjual kue kering, misalnya, Anda bisa membuat video singkat tentang proses pengemasan, cara menyimpan kue agar tetap renyah, atau perbedaan ukuran kemasan yang tersedia.

Jika menjual pakaian, buat konten yang menunjukkan detail bahan, pilihan warna, cara memadukan pakaian, atau panduan memilih ukuran.

Sementara itu, penjual hampers dapat menampilkan proses menyusun isi paket, pilihan kemasan, dan contoh hadiah untuk berbagai kebutuhan.

Konten seperti ini membuat calon pembeli memperoleh informasi sebelum mengambil keputusan. Produk pun dapat ditampilkan secara lebih nyata, bukan hanya melalui foto promosi.

Tidak perlu menunggu memiliki peralatan mahal untuk mulai membuat konten. Gunakan ponsel, manfaatkan cahaya alami, dan rekam produk dari sudut yang memperlihatkan detail penting. Video singkat dengan penjelasan yang jelas sering kali lebih bermanfaat daripada video yang dibuat rumit tetapi tidak memberikan informasi berarti.

Yang tidak kalah penting, gunakan testimoni secara jujur. Jangan membuat ulasan palsu atau mengklaim produk memiliki manfaat yang tidak dapat dibuktikan. Kepercayaan pelanggan jauh lebih berharga daripada perhatian sesaat.

4. Pilih Kanal Penjualan yang Sanggup Dikelola

Saat ingin meningkatkan penjualan, pelaku UMKM terkadang merasa harus hadir di semua platform sekaligus. Mereka membuat akun di berbagai media sosial, membuka toko di beberapa marketplace, dan mencoba berbagai aplikasi penjualan dalam waktu bersamaan.

Sebenarnya, memperluas kanal penjualan bisa menjadi langkah yang baik. Namun, jika sumber daya terbatas, terlalu banyak kanal justru dapat menyulitkan pengelolaan pesanan dan pelayanan pelanggan.

Bayangkan seorang pemilik usaha rumahan yang harus memproduksi barang, membalas pesan, memeriksa pembayaran, mengemas pesanan, dan mengatur pengiriman seorang diri. Jika semua aktivitas dilakukan di banyak platform tanpa sistem pencatatan yang jelas, risiko pesanan terlewat atau stok tidak sesuai akan meningkat.

Karena itu, mulailah dari satu atau dua kanal yang paling sesuai dengan jenis produk dan kebiasaan pelanggan.

Jika calon pelanggan banyak berasal dari lingkungan sekitar, WhatsApp Business dapat dimanfaatkan untuk menampilkan katalog dan menjawab pertanyaan. Jika produk membutuhkan tampilan visual yang kuat, media sosial bisa membantu memperkenalkannya. Marketplace dapat menjadi pilihan ketika penjual ingin memanfaatkan fitur transaksi dan jangkauan pelanggan yang tersedia di platform tersebut.

Setiap kanal memiliki kelebihan dan keterbatasan. Perhatikan biaya layanan, ketentuan promosi, kemudahan pengelolaan, dan karakteristik pembelinya.

Setelah proses penjualan berjalan dengan baik, barulah pertimbangkan untuk memperluas jangkauan ke kanal lain.

5. Siapkan Stok dan Jangan Menjanjikan Sesuatu yang Belum Pasti

Salah satu masalah yang bisa muncul ketika pesanan meningkat adalah stok tidak mencukupi. Kondisi ini cukup merepotkan, terutama bagi usaha yang membuat produk berdasarkan pesanan atau memiliki waktu produksi tertentu.

Pelanggan mungkin sudah membayar, tetapi penjual ternyata belum memiliki barang yang siap dikirim. Akibatnya, pengiriman terlambat dan pembeli merasa kecewa.

Untuk mengurangi risiko tersebut, catat stok yang tersedia dan perbarui jumlahnya setiap kali terjadi transaksi. Jika produk harus dibuat terlebih dahulu, tentukan kapasitas produksi harian agar jumlah pesanan yang diterima tidak melampaui kemampuan usaha.

Misalnya, sebuah usaha rumahan mampu membuat 40 paket hampers per hari. Jika kapasitas tersebut sudah hampir penuh, penjual perlu mengatur batas pemesanan atau memberikan estimasi waktu pengerjaan yang realistis.

Jangan menerima pesanan dalam jumlah besar hanya karena takut kehilangan pelanggan, sementara kemampuan produksi belum memadai.

Hal yang sama berlaku untuk pengiriman. Menjelang hari raya, jadwal pengiriman dapat dipengaruhi oleh kepadatan pesanan dan operasional jasa logistik. Karena itu, informasikan batas waktu pemesanan dan estimasi pengiriman berdasarkan informasi yang tersedia.

Jika ada kemungkinan keterlambatan, sampaikan sejak awal. Pelanggan biasanya lebih mudah memahami situasi ketika mendapat informasi yang jelas daripada harus menunggu tanpa kepastian.

6. Berikan Pelayanan yang Membuat Pelanggan Nyaman

Harga yang menarik memang dapat membuat orang tertarik mencoba sebuah produk. Namun, pelayanan sering kali menjadi salah satu alasan pelanggan memutuskan untuk kembali membeli.

Pelayanan yang baik tidak selalu berarti harus membalas pesan dalam hitungan detik. Yang lebih penting adalah memberikan informasi secara jelas, bersikap sopan, dan tidak membiarkan pelanggan kebingungan mengenai status pesanan.

Siapkan jawaban untuk pertanyaan yang sering muncul, seperti harga, pilihan ukuran, biaya pengiriman, metode pembayaran, dan estimasi waktu pemrosesan. Informasi tersebut dapat disusun menjadi pesan singkat yang mudah digunakan kembali.

Jika pesanan sedang diproses, berikan pembaruan sesuai kebutuhan. Jika terjadi kendala, jelaskan situasinya dan sampaikan solusi yang bisa dilakukan.

Jangan pula mengabaikan pertanyaan hanya karena calon pembeli belum langsung melakukan transaksi. Seseorang yang bertanya hari ini mungkin baru akan membeli beberapa hari kemudian.

Setelah pesanan diterima, penjual dapat meminta masukan secara sopan untuk mengetahui bagian pelayanan yang perlu diperbaiki. Namun, jangan memaksa pelanggan memberikan ulasan positif atau membuat testimoni yang tidak sesuai dengan pengalaman mereka.

Pelayanan yang konsisten membantu membangun kepercayaan. Dalam jangka panjang, pelanggan yang puas juga berpotensi merekomendasikan usaha kepada teman atau anggota keluarga.

7. Perhatikan Keamanan Transaksi Online

Ketika transaksi meningkat, pelaku UMKM juga perlu lebih berhati-hati terhadap risiko penipuan.

Jangan hanya mengandalkan tangkapan layar bukti transfer. Periksa mutasi atau status pembayaran melalui aplikasi dan kanal resmi yang digunakan. Jika ada pihak yang mengaku sebagai pembeli lalu meminta kode OTP, PIN, kata sandi, atau informasi rahasia, jangan memberikannya.

Waspadai juga pesan yang mengatasnamakan marketplace, jasa pengiriman, atau penyedia pembayaran dan meminta Anda membuka tautan yang tidak jelas.

Untuk usaha yang mulai berkembang, pisahkan pencatatan transaksi bisnis dari pengeluaran pribadi. Kebiasaan ini membantu pemilik usaha memeriksa arus uang dengan lebih mudah dan mengetahui apakah transaksi yang tercatat benar-benar sesuai dengan pembayaran yang diterima.

Simpan bukti transaksi dan catatan pesanan secara teratur. Jika terjadi perbedaan pembayaran atau komplain, informasi tersebut akan mempermudah proses pemeriksaan.

Keamanan transaksi tidak hanya melindungi uang, tetapi juga membantu menjaga kepercayaan pelanggan terhadap usaha Anda.

8. Jangan Lupa Menghitung Keuntungan Setelah Lebaran

Ramainya pesanan selama musim Lebaran memang menyenangkan. Namun, pelaku UMKM sebaiknya tidak hanya melihat jumlah barang yang terjual atau uang yang masuk ke rekening.

Omzet adalah total nilai penjualan, bukan otomatis keuntungan bersih. Sebagian uang yang diterima masih harus digunakan untuk membeli bahan baku, membayar kemasan, menutup biaya operasional, membayar tenaga kerja, dan memenuhi kewajiban lain.

Karena itu, catat pemasukan dan pengeluaran selama periode promosi. Catatan sederhana menggunakan spreadsheet sudah cukup untuk memulai.

Beberapa hal yang bisa dicatat antara lain jumlah produk terjual, total penjualan, biaya produksi, biaya promosi, biaya platform, biaya pengiriman yang ditanggung penjual, serta jumlah pesanan yang dibatalkan atau dikembalikan.

Setelah periode ramai berakhir, lakukan evaluasi. Produk mana yang paling banyak diminati? Promosi mana yang menghasilkan transaksi? Kanal penjualan mana yang paling efektif? Apakah stok terlalu banyak atau justru sering habis?

Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat menjadi dasar untuk menyusun strategi pada periode berikutnya.

Jangan berkecil hati jika hasilnya belum sesuai harapan. Justru dari pencatatan dan evaluasi, pelaku UMKM dapat memahami bagian yang perlu diperbaiki tanpa harus mengeluarkan biaya besar untuk mencoba semua strategi sekaligus.

9. Bangun Hubungan dengan Pelanggan, Bukan Hanya Mengejar Transaksi

Salah satu peluang dari penjualan online adalah kemampuan menjaga hubungan dengan pelanggan setelah transaksi selesai.

Setelah Lebaran, kebutuhan masyarakat mungkin berubah. Namun, pelanggan yang puas masih bisa kembali membeli produk untuk acara keluarga, kebutuhan rumah tangga, hadiah, atau keperluan sehari-hari.

Karena itu, simpan catatan pesanan dengan cara yang sesuai dan hormati privasi pelanggan. Jika ingin mengirim informasi promosi, pastikan pelanggan memang bersedia menerimanya dan sediakan cara yang mudah untuk berhenti berlangganan.

Anda juga dapat membagikan informasi tentang produk baru, tips penggunaan, atau penawaran khusus pada waktu yang relevan. Hindari mengirim pesan promosi terlalu sering karena dapat membuat pelanggan merasa terganggu.

Hubungan yang baik dibangun melalui pengalaman belanja yang konsisten, kualitas produk yang terjaga, dan komunikasi yang jujur.

Bagi UMKM, pelanggan lama yang kembali membeli dapat menjadi aset penting. Usaha tidak harus selalu mengeluarkan biaya untuk mencari pembeli baru jika sudah mampu menjaga hubungan baik dengan pelanggan yang ada.

Kesimpulan

Menjelang Lebaran, peningkatan kebutuhan masyarakat dapat menjadi peluang bagi UMKM untuk memperluas pasar dan meningkatkan penjualan online. Namun, peluang tersebut perlu diikuti dengan persiapan yang matang agar usaha tidak hanya ramai transaksi, tetapi juga memperoleh keuntungan yang sehat.

Mulailah dengan merapikan katalog, membuat penawaran yang masuk akal, dan menghadirkan konten yang membantu calon pembeli memahami produk. Pilih kanal penjualan yang sanggup dikelola, siapkan stok sesuai kapasitas, dan berikan pelayanan yang jelas.

Jangan lupa menjaga keamanan transaksi serta mencatat pemasukan dan pengeluaran. Dengan begitu, pemilik usaha dapat mengetahui strategi mana yang benar-benar memberikan hasil.

Pelaku UMKM tidak harus mengikuti semua tren atau mengeluarkan biaya promosi besar untuk bersaing. Langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat membantu usaha berkembang dan memberikan pengalaman belanja yang lebih baik kepada pelanggan.

Pada akhirnya, keberhasilan usaha bukan hanya tentang seberapa banyak produk terjual selama Lebaran. Yang tidak kalah penting adalah berapa keuntungan yang diperoleh, seberapa baik pelanggan dilayani, dan apakah usaha tetap bisa berjalan setelah musim ramai berakhir.